AKHLAK TERCELA (HASUD, RIYA DAN ANIAYA)
A. Sikap Hasud
Kata hasud
dalam bahasa Arab berarti orang yang memilki sifat dengki. Dengki adalah satu
sikap mental seseorang tidak senang orang lain mendapat kenikmatan hidup dan
berusaha untuk melenyapkannya, sifat ini harus dihindari oleh seseorang dalam
kehidupan sehari-hari.
. Rasulullah SAW telah bersabda:
Artinya: “Telah masuk ke tubuhmu penyakit-penyakit umat tedahulu,
(yaitu) benci dan dengki, itulah yang membinasakan agama, bukan dengki mencukur
rambut.” (HR Ahmad dan Turmidzi)
Dari hadits diatas dapat dipahami bahwa hancurnya
agama sejak dahulu adalah disebabkan oleh timbulnya sifata benci dan dengki
diantara pemeluknya. Betapa kejinya sifat benci dan dengki apabila berkembang
ditengah-tengah masyrakat apalagi di sekolah. Sifat tersebut dapat
menghancurkan nama baik sekolah dan sudah dapat dipastikan sekolah tersebut
akan menjadi sumber malapetaka bagi masyarakat di sekitarnya.
Perlu diketahui, bahwa seseorang yang dihasudi, tidak
akan pernah berkurang rejekinya karena adanya orang yang hasud kepadanya,
bahkan seorang yang hasud kepadanya tidak akan pernah mampu “mengambil sesuatu”
yang dimiliki oleh orang yang dihasudi tersebut. Oleh karena itu, keinginan
orang yang hasud akan hilangnya apa yang diberikan Allah Swt terhadap orang
yang dihasudinya itu merupakan perbuatan yang sangat zalim.
Selanjutnya, seorang yang hasud sebaiknya melihat
keadaan orang yang dihasudinya. Jika orang yang dihasudinya itu memperoleh
kenikmatan duniawi semata, maka sebaiknya dia menyayanginya, bukan bersikap
hasud kepadanya, karena apa yang diperolehnya memang sudah ditentukan baginya
bukan untuk orang yang hasud tersebut. Bukankah kelebihan harta benda merupakan
suatu kesusahan? Seperti yang diungkapkan oleh al-Mutanabbi: “Seorang pemuda
menuturkan ‘kehidupannya’ yang kedua. Yang dibutuhkannya hanyalah yang
dimakannya. Sedangkan kelebihan kehidupannya hanya menjadi kesusahan baginya
saja”.
Maksud dari perkataan di atas adalah bahwa banyaknya
harta benda akan menyebabkan timbulnya perasaan khawatir yang berlebihan dalam
dirinya. Seseorang yang memiliki banyak jariya’h (budak perempuan), maka dia
akan semakin merasa khawatir kepada mereka atau bahkan banyak menyita perhatian
dan pikirannya. Begitu juga dengan seseorang yang sedang berkuasa, dia sangat
merasa ketakutan akan dicopotnya jabatan tersebut dari dirinya.
Ketahuilah, bahwa kenikmatan itu seringkali bercampur
dengan kesusahan. Kenikmatan mungkin hanya bisa dirasakan sebentar saja, tetapi
kesusahan yang mengiringinya mungkin akan dirasakan dalam waktu yang lama,
sehingga orang tersebut menginginkan agar kenikmatan itu segera sirna saja atau
dia bisa membebaskan diri dari kenikmatan tersebut. Yakinlah, bahwa sesuatu
yang membuat seseorang merasa iri terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain
belum tentu dirasakan oleh orang tersebut seperti yang dibayangkan oleh orang
yang hasud tersebut. Banyak orang yang menyangka bahwa para pejabat itu
bergelimang dengan kenikmatan. Mereka tidak memahami bahwa jika seseorang
sangat menginginkan sesuatu, kemudian dia berhasil memperolehnya, maka sesuatu
itu akan terasa biasa-biasa saja baginya, dan dia akan terus mengejar sesuatu
yang dianggapnya lebih tinggi dari itu. Sementara, orang yang hasud hanya
memandang semua itu dengan pandangan yang penuh harap dan penuh ambisi. Seorang
yang hasud hendaknya mengetahui konsekuensi penderitaan yang mungkin saja
dialami oleh orang yang dihasudinya di balik kenikmatan yang semu yang
dirasakannya.
Dalam sebuah hadits yang sanadnya bersambung kepada
Zubair bin al-‘Awwam, Rasulullah Saw bersabda: “Telah menjalar kepada kalian
penyakit umat-umat sebelum kamu, yaitu (penyakit) hasud dan permusuhan. Sifat
permusuhan merupakan sesuatu yang bisa merusak dan membinasakan, yakni merusak
agama…. Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak
dianggap beriman sampai kalian saling mencintai (satu sama lain). Maukah kalian
aku beritahu tentang sesuatu yang jika kalian mengamalkannya, maka kalian akan
saling menyayangi, sebarkanlah salam di antara kalian”
Dalam hadits lain yang sanadnya bersambung kepada
Salim dari ayahnya, Rasulullah Saw bersabda:
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَبْنِ رَجُلٍ أَتَاهُ اللهُ
عَزَّ وَجَلَّ القُرْانَ فَهُوَ بَقُوْمُ بِهِ أَنَاء اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ، و
رَجُلٍ أَتَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ فِى الحَقِّ أَنَاء اللَّيْلِ
وَالنَّهَارِ َ
“Tidak diperbolehkan hasud kecuali kepada dua orang,
yakni kepada seorang laki-laki yang diberikan al-Qur’an oleh Allah Swt
sedangkan dia mengamalkannya siang dan malam; dan kepada seorang laki-laki yang
diberikan harta oleh Allah Swt lalu dia menginfakannya di jalan yang benar
siang dan malam”. (HR Bukhari dan Muslim)
1. Bahaya Perbuatan Hasud
Sifat hasud sangant membahayakan kehidupan manusia antara lain:
- menyebabkan hati tidak tenang
karena selalu akan memikirkan bagaimana keadaan itu dapat hilang dari
seseorang.
- Menghancurkan persatuan dan
kesatuan, karena biasanya orang yang hasud akan mengadu domba dan suka
menfitnah
- Menghancurkan kebaikan yang ada
padanya. Rasulullah SAW bersabda:
عن ابى هريرة قال : قال رسول الله ص م
اياكم و الحسد, فان الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب (رواه ابر
داود)
Artinya: “Dari Abu Hurairah katanya: Telah bersabda
rasullah SAW : Hendaklah engkau menjauhkan diri dari sifat hasud, sebab sifat
hasud memakan kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar.” (HR Abu Daud)
Hadits tersebut menunjukkan bahwa kita diperintahkan
menjauhi sifat hasud, karena sifat hasud dapat memakan kebaikan sebagaimana api
memakan kayu bakar.
2. Cara Menghindari Hasud
Cara menghindari hasud antara lain sebagai berikut:
- Meningkatkan iman dan takwa
kepada Allah SWT
- Menyadari bahwa pemberiya’n
dari Allah kepada manusia tidaklah sama, sesuai dengan kehendaknya
- Menyadari bahwa hasud dapat
menghapuskan kebaikan.
B. Sikap Riya’
Riya’ artinya memperlihatkan (menampakkan) diri kepada
orang lain, supaya diketahui kehebatan perbuatannya, baik melalui pembicaraan,
tulisan ataupun sikap perbuatan dengan tujuan mendapat perhatian, penghargaan
dan pujian manusia, bukan ikhlas karena Allah
Riya’ itu bisa terjadi dalam niat, yaitu ketika akan
melakukan pekerjaan. Bisa juga terjadi ketika melakukan pekerjaan atau setelah
selesai melakukan suatu pekerjaan
Dalam sebuah hadis, Rasulullah bercerita, ”Di hari
kiamat nanti ada orang yang mati syahid diperintahkan oleh Allah untuk masuk ke
neraka. Lalu orang itu melakukan protes, ‘Wahai Tuhanku, aku ini telah mati
syahid dalam perjuangan membela agama-Mu, mengapa aku dimasukkan ke neraka?’
Allah menjawab, ‘Kamu berdusta dalam berjuang. Kamu hanya ingin mendapatkan
pujian dari orang lain, agar dirimu dikatakan sebagai pemberani.Dan, apabila
pujian itu telah dikatakan oleh mereka, maka itulah sebagai balasan dari
perjuanganmu’.” Orang yang berjuang atau beribadah demi sesuatu yang bukan
ikhlas karena Allah SWT, dalam agama disebut riya. Sepintas, sifat riya
merupakan perkara yang sepele, namun akibatnya sangat fatal. Sifat riya dapat
memberangus seluruh amal kebaikan, bagaikan air hujan yang menimpa debu di atas
bebatuan. Allah SWT berfirman, (‘Lihat al-Qur’an onlines di google)
Artinya: ‘Dan
Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu
(bagaikan) debu yang beterbangan.” (Al-Furqan: 23).
Abu Hurairah RA juga pernah mendengar Rasulullah
bersabda, ”Banyak orang yang berpuasa, namun tidak memperoleh sesuatu dari
puasanya itu kecuali lapar dan dahaga, dan banyak pula orang yang melakukan
shalat malam yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali tidak tidur semalaman.”
Begitu dahsyatnya penyakit riya ini, hingga ada seseorang yang bertanya kepada
Rasulullah, ”Apakah keselamatan itu?” Jawab Rasulullah, ”Apabila kamu tidak
menipu Allah.” Orang tersebut bertanya lagi, ”Bagaimana menipu Allah itu?”
Rasulullah menjawab, ”Apabila kamu melakukan suatu amal yang telah
diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya kepadamu, maka kamu menghendaki amal itu
untuk selain Allah.” Meskipun riya sangat berbahaya, tidak sedikit di antara
kita yang teperdaya oleh penyakit hati ini. Kini tidak mudah untuk menemukan
orang yang benar-benar ikhlas beribadah kepada Allah tanpa adanya pamrih dari
manusia atau tujuan lainnya, baik dalam masalah ibadah, muamalah, ataupun
perjuangan. Meskipun kadarnya berbeda-beda antara satu dan lainnya, tujuannya
tetap sama: ingin menunjukkan amaliyahnya, ibadah, dan segala aktivitasnya di
hadapan manusia.
Tanda-tanda penyakit hati ini pernah dinyatakan oleh
Ali bin Abi Thalib. Kata beliau, ”Orang yang riya itu memiliki tiga ciri, yaitu
malas beramal ketika sendirian dan giat beramal ketika berada di tengah-tengah
orang ramai, menambah amaliyahnya ketika dirinya dipuji, dan mengurangi
amaliyahnya ketika dirinya dicela.” Secara tegas Rasulullah pernah bersabda,
”Takutlah kamu kepada syirik kecil.” Para shahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah,
apa yang dimaksud dengan syirik kecil?” Rasulullah berkata, ”Yaitu sifat riya.
Kelak di hari pembalasan, Allah mengatakan kepada mereka yang memiliki sifat
riya, ‘pergilah kalian kepada mereka, di mana kalian pernah memperlihatkan amal
kalian kepada mereka semasa di dunia. Lihatlah apakah kalian memperoleh imbalan
pahala dari mereka’?
1. Riya’ dalam Niat
Riya’ dalam niat, yaitu ketika mengawali pekerjaan, dia mempunyai keinginan
untuk mendapat pujian, sanjungan dan penghargaan dari orang lain, bukan karena
Allah. Padahal niat itu sangat menentukan nilai dari suatu pekerjaan.
Jika pekerjaan yang baik dilakukan dengan niat karena Allah maka perbuatan
itu mempunyai nilai di sisi Allah. Jika dilakukan karena ingin mendapat
sanjungan dan penghargaan dari orang lain, maka perbuatan itu tidak akan
memperoleh pahala dari Allah. Hanya sanjungan dan itulah yang akan dia peroleh.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
اِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ … (رواه مسلم)
Artinya: “sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya.” (HR
Muslim)
2. Riya’ dalam Perbuatan
Riya’ dalam perbuatan ini, misalnya ketika mengerjakan shalat dan
bersedekah. Orang riya’ ini dalam mengerjakan shalat biasanya dai
memperlihatkan kesungguhan, kerajinan dan kekhusyukannya jika dia berada di
tengah-tengah orang atau jamaah. Sehingga orang lain melihat dia berdiri,
rukuk, sujud dan sebagainya. Dai shalat dengan tekun itu mengharapkan perhatian,
sanjungan dan pujian orang lain agar dia dianggap sebagai orang yang taat dan
tekun beribadah. Orang yang riya’ dalam shalatnya akan celaka diakhirat nanti.
Sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Maun ayat 4-7 dan An Nisa ayat
142: (lihat al-Qur’an onlines di google)
C. Artinya: “ Maka kecelakaanlah
bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, .
orang-orang yang berbuat riya’], dan enggan (menolong
dengan) barang berguna.” (QS Al Maun : 4-7) Sikap Hasud
Kata hasud dalam bahasa Arab berarti orang yang
memilki sifat dengki. Dengki adalah satu sikap mental seseorang tidak senang
orang lain mendapat kenikmatan hidup dan berusaha untuk melenyapkannya, sifat
ini harus dihindari oleh seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
. Rasulullah SAW telah bersabda:
دَبَّ
اِلَيْكُمْ دَاءُ الاُمَمِ قَبْلَكُمْ البَغْضَاءُ وَ الحَسََدُ هِيَ حَالِقَةُ
الدِّيْنِ لاَ حَالِقَةُ الشَّعْرِ (رواه احمد و ترمذى)
Artinya: “Telah masuk ke tubuhmu penyakit-penyakit umat tedahulu,
(yaitu) benci dan dengki, itulah yang membinasakan agama, bukan dengki mencukur
rambut.” (HR Ahmad dan Turmidzi)
Dari hadits diatas dapat dipahami bahwa hancurnya
agama sejak dahulu adalah disebabkan oleh timbulnya sifata benci dan dengki
diantara pemeluknya. Betapa kejinya sifat benci dan dengki apabila berkembang
ditengah-tengah masyrakat apalagi di sekolah. Sifat tersebut dapat
menghancurkan nama baik sekolah dan sudah dapat dipastikan sekolah tersebut
akan menjadi sumber malapetaka bagi masyarakat di sekitarnya.
Perlu diketahui, bahwa seseorang yang dihasudi, tidak
akan pernah berkurang rejekinya karena adanya orang yang hasud kepadanya,
bahkan seorang yang hasud kepadanya tidak akan pernah mampu “mengambil sesuatu”
yang dimiliki oleh orang yang dihasudi tersebut. Oleh karena itu, keinginan
orang yang hasud akan hilangnya apa yang diberikan Allah Swt terhadap orang
yang dihasudinya itu merupakan perbuatan yang sangat zalim.
Selanjutnya, seorang yang hasud sebaiknya melihat
keadaan orang yang dihasudinya. Jika orang yang dihasudinya itu memperoleh
kenikmatan duniawi semata, maka sebaiknya dia menyayanginya, bukan bersikap
hasud kepadanya, karena apa yang diperolehnya memang sudah ditentukan baginya
bukan untuk orang yang hasud tersebut. Bukankah kelebihan harta benda merupakan
suatu kesusahan? Seperti yang diungkapkan oleh al-Mutanabbi: “Seorang pemuda
menuturkan ‘kehidupannya’ yang kedua. Yang dibutuhkannya hanyalah yang
dimakannya. Sedangkan kelebihan kehidupannya hanya menjadi kesusahan baginya
saja”.
Maksud dari perkataan di atas adalah bahwa banyaknya
harta benda akan menyebabkan timbulnya perasaan khawatir yang berlebihan dalam
dirinya. Seseorang yang memiliki banyak jariya’h (budak perempuan), maka dia
akan semakin merasa khawatir kepada mereka atau bahkan banyak menyita perhatian
dan pikirannya. Begitu juga dengan seseorang yang sedang berkuasa, dia sangat
merasa ketakutan akan dicopotnya jabatan tersebut dari dirinya.
Ketahuilah, bahwa kenikmatan itu seringkali bercampur
dengan kesusahan. Kenikmatan mungkin hanya bisa dirasakan sebentar saja, tetapi
kesusahan yang mengiringinya mungkin akan dirasakan dalam waktu yang lama,
sehingga orang tersebut menginginkan agar kenikmatan itu segera sirna saja atau
dia bisa membebaskan diri dari kenikmatan tersebut. Yakinlah, bahwa sesuatu
yang membuat seseorang merasa iri terhadap apa yang dimiliki oleh orang lain
belum tentu dirasakan oleh orang tersebut seperti yang dibayangkan oleh orang
yang hasud tersebut. Banyak orang yang menyangka bahwa para pejabat itu
bergelimang dengan kenikmatan. Mereka tidak memahami bahwa jika seseorang
sangat menginginkan sesuatu, kemudian dia berhasil memperolehnya, maka sesuatu
itu akan terasa biasa-biasa saja baginya, dan dia akan terus mengejar sesuatu
yang dianggapnya lebih tinggi dari itu. Sementara, orang yang hasud hanya
memandang semua itu dengan pandangan yang penuh harap dan penuh ambisi. Seorang
yang hasud hendaknya mengetahui konsekuensi penderitaan yang mungkin saja
dialami oleh orang yang dihasudinya di balik kenikmatan yang semu yang dirasakannya.
Dalam sebuah hadits yang sanadnya bersambung kepada
Zubair bin al-‘Awwam, Rasulullah Saw bersabda: “Telah menjalar kepada kalian
penyakit umat-umat sebelum kamu, yaitu (penyakit) hasud dan permusuhan. Sifat
permusuhan merupakan sesuatu yang bisa merusak dan membinasakan, yakni merusak
agama…. Demi Allah, yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kalian tidak
dianggap beriman sampai kalian saling mencintai (satu sama lain). Maukah kalian
aku beritahu tentang sesuatu yang jika kalian mengamalkannya, maka kalian akan
saling menyayangi, sebarkanlah salam di antara kalian”
Dalam hadits lain yang sanadnya bersambung kepada
Salim dari ayahnya, Rasulullah Saw bersabda:
لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَبْنِ رَجُلٍ أَتَاهُ اللهُ
عَزَّ وَجَلَّ القُرْانَ فَهُوَ بَقُوْمُ بِهِ أَنَاء اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ، و
رَجُلٍ أَتَاهُ اللهُ مَالاً فَهُوَ يُنْفِقُهُ فِى الحَقِّ أَنَاء اللَّيْلِ
وَالنَّهَارِ َ
“Tidak diperbolehkan hasud kecuali kepada dua orang,
yakni kepada seorang laki-laki yang diberikan al-Qur’an oleh Allah Swt sedangkan
dia mengamalkannya siang dan malam; dan kepada seorang laki-laki yang diberikan
harta oleh Allah Swt lalu dia menginfakannya di jalan yang benar siang dan
malam”. (HR Bukhari dan Muslim)
3. Bahaya Perbuatan Hasud
Sifat hasud sangant membahayakan kehidupan manusia antara lain:
- menyebabkan hati tidak tenang
karena selalu akan memikirkan bagaimana keadaan itu dapat hilang dari
seseorang.
- Menghancurkan persatuan dan
kesatuan, karena biasanya orang yang hasud akan mengadu domba dan suka
menfitnah
- Menghancurkan kebaikan yang ada
padanya. Rasulullah SAW bersabda:
عن ابى هريرة قال : قال رسول الله ص م
اياكم و الحسد, فان الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب (رواه ابر
داود)
Artinya: “Dari Abu Hurairah katanya: Telah bersabda
rasullah SAW : Hendaklah engkau menjauhkan diri dari sifat hasud, sebab sifat
hasud memakan kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar.” (HR Abu Daud)
Hadits tersebut menunjukkan bahwa kita diperintahkan
menjauhi sifat hasud, karena sifat hasud dapat memakan kebaikan sebagaimana api
memakan kayu bakar.
4. Cara Menghindari Hasud
Cara menghindari hasud antara lain sebagai berikut:
- Meningkatkan iman dan takwa
kepada Allah SWT
- Menyadari bahwa pemberiya’n
dari Allah kepada manusia tidaklah sama, sesuai dengan kehendaknya
- Menyadari bahwa hasud dapat
menghapuskan kebaikan.
D. Sikap Riya’
Riya’ artinya memperlihatkan (menampakkan) diri kepada
orang lain, supaya diketahui kehebatan perbuatannya, baik melalui pembicaraan,
tulisan ataupun sikap perbuatan dengan tujuan mendapat perhatian, penghargaan
dan pujian manusia, bukan ikhlas karena Allah
Riya’ itu bisa terjadi dalam niat, yaitu ketika akan
melakukan pekerjaan. Bisa juga terjadi ketika melakukan pekerjaan atau setelah
selesai melakukan suatu pekerjaan
Dalam sebuah hadis, Rasulullah bercerita, ”Di hari
kiamat nanti ada orang yang mati syahid diperintahkan oleh Allah untuk masuk ke
neraka. Lalu orang itu melakukan protes, ‘Wahai Tuhanku, aku ini telah mati
syahid dalam perjuangan membela agama-Mu, mengapa aku dimasukkan ke neraka?’
Allah menjawab, ‘Kamu berdusta dalam berjuang. Kamu hanya ingin mendapatkan
pujian dari orang lain, agar dirimu dikatakan sebagai pemberani.Dan, apabila
pujian itu telah dikatakan oleh mereka, maka itulah sebagai balasan dari
perjuanganmu’.” Orang yang berjuang atau beribadah demi sesuatu yang bukan
ikhlas karena Allah SWT, dalam agama disebut riya. Sepintas, sifat riya
merupakan perkara yang sepele, namun akibatnya sangat fatal. Sifat riya dapat
memberangus seluruh amal kebaikan, bagaikan air hujan yang menimpa debu di atas
bebatuan. Allah SWT berfirman, (‘lihat al-qur’an di google)
Artinya: ‘Dan
Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu
(bagaikan) debu yang beterbangan.” (Al-Furqan: 23).
Abu Hurairah RA juga pernah mendengar Rasulullah bersabda,
”Banyak orang yang berpuasa, namun tidak memperoleh sesuatu dari puasanya itu
kecuali lapar dan dahaga, dan banyak pula orang yang melakukan shalat malam
yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali tidak tidur semalaman.” Begitu
dahsyatnya penyakit riya ini, hingga ada seseorang yang bertanya kepada
Rasulullah, ”Apakah keselamatan itu?” Jawab Rasulullah, ”Apabila kamu tidak
menipu Allah.” Orang tersebut bertanya lagi, ”Bagaimana menipu Allah itu?”
Rasulullah menjawab, ”Apabila kamu melakukan suatu amal yang telah
diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya kepadamu, maka kamu menghendaki amal itu
untuk selain Allah.” Meskipun riya sangat berbahaya, tidak sedikit di antara
kita yang teperdaya oleh penyakit hati ini. Kini tidak mudah untuk menemukan
orang yang benar-benar ikhlas beribadah kepada Allah tanpa adanya pamrih dari
manusia atau tujuan lainnya, baik dalam masalah ibadah, muamalah, ataupun
perjuangan. Meskipun kadarnya berbeda-beda antara satu dan lainnya, tujuannya
tetap sama: ingin menunjukkan amaliyahnya, ibadah, dan segala aktivitasnya di
hadapan manusia.
Tanda-tanda penyakit hati ini pernah dinyatakan oleh
Ali bin Abi Thalib. Kata beliau, ”Orang yang riya itu memiliki tiga ciri, yaitu
malas beramal ketika sendirian dan giat beramal ketika berada di tengah-tengah
orang ramai, menambah amaliyahnya ketika dirinya dipuji, dan mengurangi
amaliyahnya ketika dirinya dicela.” Secara tegas Rasulullah pernah bersabda,
”Takutlah kamu kepada syirik kecil.” Para shahabat bertanya, ”Wahai Rasulullah,
apa yang dimaksud dengan syirik kecil?” Rasulullah berkata, ”Yaitu sifat riya.
Kelak di hari pembalasan, Allah mengatakan kepada mereka yang memiliki sifat
riya, ‘pergilah kalian kepada mereka, di mana kalian pernah memperlihatkan amal
kalian kepada mereka semasa di dunia. Lihatlah apakah kalian memperoleh imbalan
pahala dari mereka’?
3. Riya’ dalam Niat
Riya’ dalam niat, yaitu ketika mengawali pekerjaan, dia mempunyai keinginan
untuk mendapat pujian, sanjungan dan penghargaan dari orang lain, bukan karena
Allah. Padahal niat itu sangat menentukan nilai dari suatu pekerjaan.
Jika pekerjaan yang baik dilakukan dengan niat karena Allah maka perbuatan
itu mempunyai nilai di sisi Allah. Jika dilakukan karena ingin mendapat
sanjungan dan penghargaan dari orang lain, maka perbuatan itu tidak akan
memperoleh pahala dari Allah. Hanya sanjungan dan itulah yang akan dia peroleh.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
اِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ … (رواه مسلم)
Artinya: “sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya.” (HR
Muslim)
4. Riya’ dalam Perbuatan
Riya’ dalam perbuatan ini, misalnya ketika mengerjakan shalat dan
bersedekah. Orang riya’ ini dalam mengerjakan shalat biasanya dai
memperlihatkan kesungguhan, kerajinan dan kekhusyukannya jika dia berada di
tengah-tengah orang atau jamaah. Sehingga orang lain melihat dia berdiri,
rukuk, sujud dan sebagainya. Dai shalat dengan tekun itu mengharapkan perhatian,
sanjungan dan pujian orang lain agar dia dianggap sebagai orang yang taat dan
tekun beribadah. Orang yang riya’ dalam shalatnya akan celaka diakhirat nanti.
Sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an surat Al Maun ayat 4-7 dan An Nisa ayat
142:(lihat al-qur’an onlines di google)
Artinya: “ Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, . orang-orang yang berbuat riya’],
dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS Al Maun : 4-7)
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah
akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka
berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan
manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS An
Nisa : 142)
5. Bahaya Riya’
Riya’ berbahaya bagi diri sendiri dan orang lain.
Terhadap diri sendiri, bahaya riya’ itu akan dirasakan oleh dirinya berupa
ketidak puasan, rasa hampa, sakit hati dan penyesalan. Ketika orang lain tidak
menghargai, tidak menyanjungnya dan tidak berterima kasih kepadanya. Padahal ia
telah menolong orang lain, bersedekah dan sebagainya. Akhirnya, jiwa akan sakit
dan keluh kesah yang tiada hentinya.
Bahaya riya’ terhadap orang lain akan diolok-olok dan
dicaci oleh orang yang telah dibantu atau memberinya dengan riya’ itu. Dia
mengumpat dan mencaci itu karena keinginan untuk disanjung dan dipuji tidak
dipenuhi sesuai dengan kehendaknya. Orang yang telah diumpat dan dicaci itu
pasti akan tersinggung dan akhirnya terjadilah perselisihan antara keduanya.
Perbuatan riya’ sangat merugikan, karena Allah tidak
akan menerima dan memberi pahala atas perbuatannya. Hal ini tergambar dalam
sabda nabi Muhammad SAW yang artinya sebagai berikut.
Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata,
Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya manusia yang pertama kali
diadili di hari kiamat adalah seorang yang mati syahid, kemudian dihadapkan dan
diperlihatkan kepadanya nikmat yang telah diterimanya dan iapun mengakuinya.
Lantas ditanya: Dipergunakan untuk apa nikmat itu?, ia menjawab: Aku berperang
karenamu sehingga aku mati syahid. Allah menjawab: Dusta engkau, sesunggunya
kamu berbuat (yang demikian itu) supaya kamu dikatakan sebagai pahlawan. Dan
kemudian (malaikat) diperintahkan untuk menyeret orang itu dan melemparnya ke
dalam neraka.
Kedua, seorang yang dilapangkan
rezekinya dan dikaruniai berbagain macam kekayaan, kemudian ia dihadapkan dan
diperlihatkan kepadanya nikmat yang telah diterimanya itu, dan ia pun
mengakuinya. Lantas ditanya: Dipergunakan untuk apa nikmat itu?. Ia menjawab:
Aku tidak pernah meninggalkan infaq pada jalan yang tidak engkau ridhai,
melainkan aku berinfaq (hanya) karena mu. Lalu Allah menjawab: Dusta engkau
sesungguhnya kamu berbuat (yang demikian itu) supaya kamu dikatakan sebagai
dermawan. Kemudian (malaikat) diperintahkan untuk menyeret orang itu dan
melemparkannya ke dalam neraka.
Ketiga, seorang yang belajar dan
mengajar dan suka membaca Al Qur’an maka ia dihadapkan dan diperlihatkan nikmat
yang telah diterimanya itu dan ia pun mengakuinya, lantas ditanya: Dipergunakan
untuk apa nikmat itu?. Ia menjawab: Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta
mambaca Al Qur’an hanya untuk mu (ya Allah). Lalu Allah menjawab: Dusta engkau.
Sesungguhnya engkau menuntut ilmu supaya dikatakan orang pandai dan engkau
membaca Al Qur’an supaya dikatakan sebagai qari. Lalu (malaikat) diperintahkan
untuk menyeret orang itu dan melemparkannya ke dalam neraka.” (HR Muslim)
E. Sikap Aniaya(Dzhalim)
Aniaya adalah perbuatan bengis seperti penyiksaan atau penindasan.
Menganiaya berarti menyiksa, menyakiti dan berbagai bentuk ketidak sewengan
seperti menindas, mengambil hak orang lain dengan paksa dan lain-lainnya
Pengertian diatas dapat dijelaskan bahwa penganiayan merupakan kejahatan
yang bersifat mengancam harta dan jiwa. Perbuatan itu sama dosanya dengan
mencuri, bahkan lebih besar, karena didalamnya terdapat unsur kekerasan. Jika
sampai membunuh korbannya maka jelas perbuatan itu termasuk salah satu dosa
besar. Firman Allah SWT:(lihat al-Qur’an onlines di google)
Artinya: “Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi
Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh
atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik[414],
atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai)
suatu penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan
yang besar.” (QS Al Maidah : 33)
Dari ayat tersebut, dinyatakan bahwa hukuman bagi
penganiaya diberlakukan sesuai dengan jenis perbuatan yang dilakukannya, yaitu
sebagai berikut.
1. Jika menganiaya dan membunuh korban
serta mengambil hartanya, penganiaya dihukum dibunuh dan disalib
2. Jika ia hanya mengambil harta tanpa
membunuh korbannya maka hukumannya dihukum potong tangan dan kakinya dengan
cara silang.
3. Jika ia tidak mengambil harta dan
membunuh karena tetangkap sebelum sempat melakukan sesuatu atau hanya
menakui0nakuti saja maka hukumannya adalah dipenjara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar